Aku Cuma Ingin Tahu Kenapa Ibu Meninggalkanku
Aku nggak pernah kenal ayah dan ibuku. Sejak bayi, aku sudah ditinggalkan mereka dan dibesarkan oleh nenek dari pihak ibu.
Aku nggak pernah kenal ayah dan ibuku. Sejak bayi, aku sudah ditinggalkan mereka dan dibesarkan oleh nenek dari pihak ibu.
Sejak kecil, aku menganggap nenek sebagai ibuku sendiri. Dia yang mengurus aku, menyekolahkan aku, dan memastikan aku punya semua yang kubutuhkan. Tapi nenek mendidikku dengan keras. Aku nggak terbiasa dimanja atau mengeluh. Kalau ada masalah, aku harus menyelesaikannya sendiri.
Mungkin itu sebabnya sampai sekarang aku terbiasa melakukan semuanya sendiri. Aku jarang meminta bantuan orang lain karena dari kecil aku sudah terbiasa berpikir kalau aku cuma bisa mengandalkan diriku sendiri.
Tapi waktu sekolah, aku sering diejek teman-teman karena nggak punya orang tua. Aku juga nggak tahu mereka tahu dari mana. Setiap ada yang mengejek, aku cuma diam. Aku nggak mau mereka tahu kalau perkataan mereka menyakitiku.
Pernah suatu kali, ada tugas sekolah yang mengharuskan kami bercerita tentang keluarga. Teman-temanku bercerita tentang ayah dan ibu mereka. Ada yang cerita tentang liburan keluarga, ada yang cerita tentang ibunya yang selalu menyiapkan bekal.
Aku cuma mendengarkan.
Waktu giliranku tiba, aku nggak tahu harus cerita apa. Aku akhirnya cerita tentang nenek.
Sejak saat itu, aku nggak pernah mau membicarakan ayah dan ibuku lagi. Aku juga nggak pernah bertanya kepada nenek kenapa mereka meninggalkanku. Aku takut jawabannya akan membuatku semakin sedih.
Aku pikir, selama ada nenek, aku nggak perlu memikirkan mereka.
Tapi ternyata, semakin dewasa, aku semakin penasaran.
Aku mulai bertanya-tanya, apa mereka masih hidup? Apa mereka pernah memikirkan aku? Apa mereka tahu aku sekarang sudah dewasa? Apa mereka pernah mencari tahu bagaimana kehidupanku selama ini?
Aku tahu aku seharusnya nggak perlu memikirkan orang yang sudah meninggalkanku sejak bayi. Tapi kadang-kadang aku merasa iri melihat orang lain yang bisa menelepon ibunya hanya untuk bercerita tentang hari mereka.
Aku bahkan nggak tahu harus menghubungi siapa kalau aku sedang sedih.
Akhirnya, aku memutuskan mencari tahu tentang orang tua kandungku.
Aku mencari informasi tentang ibuku sampai akhirnya aku menemukan akun Instagram-nya.
Awalnya aku cuma melihat-lihat fotonya. Aku ingin tahu seperti apa kehidupannya sekarang. Aku juga mencoba mencari tahu apakah ada kemiripan antara wajahnya dan wajahku.
Dari foto-foto yang kulihat, ternyata ibuku sudah menikah lagi dan punya anak. Mereka terlihat bahagia. Ada foto mereka sedang berkumpul bersama, merayakan ulang tahun, dan pergi berlibur.
Aku melihat foto-foto itu cukup lama.
Aku nggak tahu harus merasa apa. Di satu sisi, aku senang karena ibuku masih hidup. Tapi di sisi lain, aku sedih karena ternyata dia bisa membangun keluarga baru, sementara aku tumbuh tanpa dirinya.
Aku sempat berpikir, mungkin dulu keadaan memang sulit. Mungkin ada alasan tertentu yang membuatnya harus meninggalkanku. Aku mencoba mencari pembenaran untuknya karena aku nggak mau percaya kalau ibuku memang sengaja nggak menginginkanku.
Aku mulai membayangkan kalau suatu hari kami bertemu. Aku membayangkan dia akan terkejut melihatku sudah dewasa. Mungkin dia akan bertanya tentang kehidupanku. Mungkin dia akan meminta maaf karena nggak ada selama ini.
Aku tahu kedengarannya konyol. Aku sudah dewasa, tapi masih punya harapan seperti anak kecil.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku memberanikan diri mengirim pesan kepadanya.
Aku mengetik pesan itu berkali-kali, menghapusnya, lalu menulisnya lagi. Aku bingung harus memanggilnya apa. Selama ini aku nggak pernah benar-benar mengenalnya, tapi dia tetap ibuku.
Akhirnya, aku mengirim pesan.
Aku: Halo, Bu. Maaf kalau pesanku tiba-tiba. Aku anak Ibu yang dulu diasuh sama Nenek. Aku nggak tahu Ibu masih ingat atau nggak.
Setelah mengirim pesan itu, aku terus membuka Instagram untuk mengecek apakah dia sudah membacanya.
Aku bahkan sudah membayangkan apa yang akan kukatakan kalau dia membalas dengan baik. Aku ingin cerita tentang kehidupanku, tentang sekolahku dulu, tentang bagaimana aku tumbuh, dan tentang semua hal yang nggak pernah sempat kuceritakan kepadanya.
Aku cuma ingin ngobrol sama ibu kandungku sendiri. Rasanya aneh harus merasa gugup untuk melakukan sesuatu yang mungkin bagi orang lain sangat biasa.
Nggak lama kemudian, dia membalas pesanku.
Ibu: Kamu dapat Instagram saya dari mana?
Aku sempat bingung harus menjawab apa. Aku pikir mungkin dia terkejut. Jadi, aku mencoba menjelaskan lagi siapa diriku.
Aku: Aku anak Ibu. Aku yang dulu ditinggal dan diasuh sama Nenek. Aku cuma mau kenal Ibu. Aku nggak bermaksud mengganggu kehidupan Ibu sekarang.
Aku menunggu balasannya. Dalam hati, aku masih berharap dia akan bertanya bagaimana keadaanku selama ini. Atau setidaknya bertanya apakah aku baik-baik saja.
Tapi balasan berikutnya justru membuatku nggak tahu harus berkata apa.
Ibu: Ibu sudah punya keluarga sendiri. Kamu nggak perlu menghubungi Ibu lagi.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Aku mencoba menjelaskan bahwa aku nggak meminta uang atau ingin merepotkannya. Aku cuma ingin tahu tentang masa laluku. Aku cuma ingin tahu kenapa aku ditinggalkan.
Aku: Aku nggak minta apa-apa, Bu. Aku cuma pengin tahu kenapa dulu Ibu ninggalin aku. Aku juga pengin kenal Ibu. Itu aja.
Tapi jawabannya tetap sama. Dia menolakku dan menyuruhku berhenti menghubunginya.
Aku nggak membalas pesannya lagi.
Aku cuma menatap layar ponsel cukup lama, berharap ada sesuatu yang mungkin kulewatkan. Berharap mungkin dia akan mengirim pesan lagi dan mengatakan bahwa dia ingin menjelaskan semuanya.
Tapi nggak ada.
Aku sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan dia nggak membalas pesanku. Tapi aku nggak pernah membayangkan kalau dia justru akan menyuruhku menjauh.
Malam itu aku menangis.
Bukan karena aku kehilangan seseorang yang selama ini ada di hidupku, tapi karena aku akhirnya tahu bahwa orang yang selama ini kucari ternyata nggak ingin aku datang.
Aku nggak pernah menyangka akan merasa sesedih itu. Selama ini aku selalu bilang kepada diriku sendiri bahwa aku nggak membutuhkan mereka. Aku bisa hidup tanpa ayah dan ibu. Aku bisa bekerja, mengurus diriku sendiri, dan menjalani hidup seperti orang lain.
Tapi ternyata, saat aku benar-benar ditolak oleh ibuku sendiri, semua keyakinan itu terasa nggak ada artinya.
Aku menangis karena selama ini aku masih berharap. Aku menangis karena ternyata aku masih ingin punya ibu, meskipun selama bertahun-tahun aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku nggak membutuhkannya.
Aku juga marah. Kenapa dia bisa hidup bahagia dengan keluarga barunya, sementara aku harus tumbuh dengan pertanyaan tentang kenapa aku ditinggalkan?
Apa yang salah denganku?
Apa aku anak yang nggak diinginkan?
Apa aku memang nggak cukup berharga untuk disayangi?
Aku tahu mungkin pertanyaan-pertanyaan itu nggak akan pernah terjawab. Tapi aku tetap memikirkannya.
Setelah kejadian itu, aku jadi teringat nenek. Aku teringat bagaimana dia membesarkanku, meskipun caranya keras. Aku teringat semua hal yang dia lakukan untukku, yang mungkin selama ini nggak pernah benar-benar kusadari.
Aku sadar, setidaknya ada seseorang yang tetap tinggal dan membesarkanku.
Tapi aku juga nggak bisa bohong. Memiliki nenek yang membesarkanku nggak membuat rasa kehilangan terhadap orang tuaku hilang begitu saja.
Aku tetap ingin tahu siapa ayahku. Aku tetap ingin tahu kenapa ibuku meninggalkanku. Dan terkadang, aku masih berharap suatu hari nanti dia akan menghubungiku dan meminta maaf.
Sampai sekarang, aku belum tahu apakah aku bisa memaafkannya. Aku juga nggak tahu apakah suatu hari nanti aku bisa bertemu dengannya tanpa merasa sakit hati lagi.
Untuk saat ini, aku cuma sedang mencoba menerima bahwa mungkin aku nggak akan mendapatkan jawaban yang selama ini kucari.
Aku juga sedang belajar untuk berhenti menyalahkan diriku sendiri atas keputusan yang dibuat oleh orang tuaku.
Tapi ternyata, menerima kenyataan itu nggak semudah yang kubayangkan. Ada kalanya aku masih membuka akun Instagram ibuku. Aku masih melihat foto-foto keluarganya, meskipun aku tahu itu hanya akan membuatku sedih lagi.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah anak-anaknya tahu kalau mereka punya kakak perempuan? Apakah ibuku pernah menceritakan tentang aku? Atau mungkin, selama ini dia memang memilih untuk melupakan bahwa aku pernah ada?
Aku nggak tahu.
Aku nggak bisa mengubah masa laluku. Aku nggak bisa memaksa ibuku untuk menginginkanku. Aku juga nggak bisa membuat ayahku tiba-tiba datang dan menjadi bagian dari hidupku.
Aku hanya bisa menjalani hidupku sekarang, meskipun ada banyak hal yang belum selesai di dalam diriku.
Aku masih sedih kalau melihat orang lain bersama ibunya. Aku masih iri ketika mendengar teman-temanku bercerita tentang ayah mereka. Dan aku rasa, mungkin perasaan itu nggak akan benar-benar hilang.
Tapi aku nggak mau terus menghabiskan hidupku dengan bertanya-tanya apa yang kurang dari diriku sampai mereka meninggalkanku.
Aku ingin belajar menerima bahwa aku mungkin nggak akan pernah tahu alasan mereka. Aku juga ingin berhenti berharap bahwa suatu hari nanti ibuku akan datang dan memperbaiki semuanya.
Bukan berarti aku sudah nggak ingin punya ibu. Aku masih menginginkannya. Aku masih ingin tahu rasanya punya seseorang yang bisa kupanggil Ibu tanpa harus merasa takut ditolak.
Aku cuma mulai sadar bahwa aku nggak bisa terus menunggu seseorang yang bahkan nggak ingin aku ada dalam hidupnya.
Aku nggak tahu apakah suatu hari nanti aku bisa benar-benar memaafkannya. Untuk sekarang, aku bahkan belum bisa membaca kembali percakapan kami tanpa menangis.
Mungkin aku memang masih membutuhkan waktu.
Aku cuma berharap, suatu hari nanti, aku bisa mengingat semua ini tanpa lagi berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan diriku.
Karena sampai sekarang, setelah semua yang terjadi, masih ada satu hal yang sulit sekali kuterima.
Aku sudah menghabiskan sebagian besar hidupku belajar untuk nggak membutuhkan ibuku. Tapi ternyata, jauh di dalam hati, aku masih berharap dia mau menjadi ibuku.
Peluk dalam komentar
Nggak perlu akun buat komentar. Yang penting: pakai hati.
Sebentar...
