Langsung ke konten utama
kembali ke cerita
đź§© Adopsi6 bulan lalu

Aku tahu aku diadopsi dari map plastik biru

Map itu disimpan di lemari paling atas. Aku menemukannya saat mencari sertifikat ijazah, dan menemukan diriku sendiri.
A
Anak Tengah dari Map Biru
Cerita pakai alias

Aku berumur tujuh belas waktu pertama kali tahu. Bukan dari ibu, bukan dari ayah. Dari map plastik biru di lemari paling atas yang aku buka karena ibu nyuruh cari sertifikat ijazah SD-ku.

Di dalam map itu ada akta kelahiran. Bukan satu—dua. Yang satu pakai namaku sekarang. Yang satu lagi pakai nama yang tidak pernah aku dengar seumur hidupku. Tapi tanggal lahirnya sama. Jam lahirnya sama. Rumah sakitnya sama.

Aku duduk di lantai kamar orang tuaku selama mungkin satu jam. Tidak menangis. Cuma diam. Otak rasanya seperti baru install ulang Windows—loading bar 12%, jangan dimatikan.

Malamnya aku tanya ibu. Ibu nangis. Ayah pulang kerja, lihat ibu nangis, langsung tau aku sudah tau. Mereka cerita semua. Pelan-pelan. Sambil ibu pegang tanganku terus, takut aku marah dan kabur.

Aku nggak marah. Aku bingung. Karena selama tujuh belas tahun aku merasa sangat dicintai. Dan tiba-tiba aku harus belajar bahwa ada perempuan lain di luar sana yang mungkin juga sayang sama aku tapi tidak bisa membawaku pulang.

Dua hal itu—dicintai dan ditinggalkan—ternyata bisa terjadi bersamaan. Dan itu yang paling sulit dijelaskan ke teman-teman yang nanya, "Lo perasaannya gimana?" Karena perasaanku banyak. Semua sekaligus. Dan tidak ada yang salah satu pun lebih kuat dari yang lain.

Sekarang aku berumur dua puluh tiga. Aku belum cari ibu kandungku. Belum siap. Tapi map plastik biru itu sekarang ada di laci mejaku. Bukan disembunyikan lagi. Karena ternyata, yang paling sulit bukan tahu kebenarannya. Yang paling sulit adalah belajar bahwa keluarga itu bisa lebih luas dari yang kita kira.

Peluk dalam komentar

Nggak perlu akun buat komentar. Yang penting: pakai hati.

Sebentar, lagi ngecek keamanan…

Yang sopan ya. Kami moderasi.

Sebentar...