Anak yang Tumbuh di Toko Bangunan
Ditinggal oleh orang tua yang lebih memilih masuk OPM dan meninggalkanku dengan orang Tionghoa
Nama saya Yafet. Saya lahir di sebuah kampung kecil di Papua, di rumah yang dindingnya masih terbuat dari papan dan atapnya seng. Waktu kecil, saya tidak pernah mengerti apa itu politik, perjuangan, atau OPM. Yang saya tahu, bapak sering pergi berhari-hari, mama sering menangis diam-diam, dan setiap malam ada orang-orang yang datang ke rumah untuk berbicara dengan suara pelan.
Suatu malam, bapak pulang dan duduk di depan saya. Saya masih kecil, tapi saya ingat tangannya kasar dan ada bekas luka panjang di lengannya. Dia bilang, "Yafet, kalau bapak pergi, jaga mama." Saya mengangguk, tanpa tahu bahwa itu mungkin percakapan terakhir saya dengan bapak.
Beberapa hari kemudian, bapak dan mama pergi. Mereka bilang mau ke gunung. Katanya ada sesuatu yang harus diperjuangkan. Saya bertanya kapan mereka akan pulang. Mama hanya memeluk saya lama sekali dan berkata, "Kalau Tuhan kasih jalan." Setelah itu mereka pergi, dan saya menunggu. Satu minggu, dua minggu, sebulan. Mereka tidak pernah pulang.
Belakangan saya baru tahu bahwa bapak dan mama memutuskan untuk ikut OPM. Waktu itu saya tidak benar-benar mengerti apa artinya. Saya hanya tahu satu hal: orang tua saya memilih pergi, dan saya ditinggalkan.
Saya kemudian tinggal bersama tante saya. Keadaan semakin sulit. Uang tidak ada, makanan kadang hanya cukup untuk sekali sehari. Sampai suatu hari datang sepasang suami istri yang punya toko material di kota. Mereka orang Cina. Namanya Koh Lim dan Cici Mei.
Pertama kali bertemu mereka, Koh Lim memberikan saya roti. Dia bertanya nama saya dan apakah saya sudah makan. Saya hanya menggeleng. Dia tidak bertanya tentang bapak saya, tidak bertanya tentang OPM, tidak bertanya kenapa saya tinggal bersama tante. Dia hanya memberikan saya roti.
Beberapa bulan kemudian, mereka mengadopsi saya. Saya pindah ke rumah mereka yang berada tepat di belakang toko material. Kamar pertama saya sebenarnya adalah ruangan kecil yang sebelumnya dipakai menyimpan kardus. Cici Mei membersihkannya, memasukkan kasur, lalu berkata, "Mulai sekarang ini kamar kamu." Saya tidak tahu harus menjawab apa. Malam itu saya tidur sambil memegang ujung selimut, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya merasa punya tempat untuk pulang.
Saya tumbuh di antara tumpukan semen, pasir, keramik, paku, besi, dan cat. Koh Lim mengajari saya menghitung uang, mencatat utang pelanggan, membedakan semen yang bagus dan yang sudah menggumpal, sampai cara mengangkat satu sak semen tanpa membuat pinggang saya copot sebelum waktunya. Cici Mei mengajari saya memasak. Saya selalu gagal membuat nasi goreng, tapi dia selalu bilang enak dan tetap menghabiskannya.
Di sekolah, orang-orang tahu saya anak Papua. Mereka juga tahu saya anak adopsi dari keluarga Cina. Pertanyaan yang sama sering muncul. "Bapak asli lo mana?" "Kenapa lo tinggal sama Cina?" "Lo sebenarnya Cina atau Papua?" Saya tidak pernah tahu jawaban yang menurut mereka benar. Kalau saya bilang saya Papua, mereka bilang keluarga saya Cina. Kalau saya bilang keluarga saya Cina, mereka bilang muka saya Papua. Akhirnya saya sadar, manusia memang suka sekali memasukkan manusia lain ke dalam kotak. Ironisnya, keluarga saya memang jual kardus.
Ketika saya mulai dewasa, saya mulai banyak berpikir tentang bapak dan mama. Saya pernah menemukan foto lama mereka dan duduk cukup lama memandanginya. Saya masih membawa darah mereka, tetapi saya sudah mulai lupa suara mereka. Saya masih membawa nama keluarga mereka, tetapi kehidupan saya justru dibentuk oleh keluarga lain.
Suatu sore saya bertanya kepada Koh Lim, "Pak, kalau bapak sama mama saya dulu nggak pergi, hidup saya bakal beda?" Dia diam cukup lama sebelum menjawab, "Mungkin." Saya kemudian bertanya apakah dia marah kepada mereka. Dia bilang dulu pernah marah, tetapi sekarang dia tidak tahu apakah perjuangan mereka benar atau salah karena dia bukan orang yang menjalani hidup mereka.
Kemudian dia menunjuk ke arah toko dan berkata, "Tapi saya tahu satu hal. Kamu sudah di sini." Saya diam. Dia melanjutkan, "Jangan habiskan hidup kamu untuk menjadi orang yang ditinggalkan."
Sekarang saya sudah dewasa dan masih tinggal di kota yang sama. Toko material itu masih ada, namanya masih sama, hanya saja sekarang saya yang mengurusnya. Kadang pelanggan baru mengira saya pegawai. Mereka sering kaget ketika tahu saya anak Koh Lim, lalu bertanya, "Anak kandung?" Saya biasanya menjawab, "Anak." Saya sudah tidak merasa perlu menjelaskan lebih jauh.
Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya akan bertemu lagi dengan bapak dan mama. Kalau bertemu, mungkin saya akan bertanya kenapa mereka pergi. Mungkin saya akan marah. Mungkin saya akan menangis. Mungkin saya bahkan tidak tahu harus memanggil mereka apa.
Tapi saya tahu satu hal. Saya tidak ingin menghabiskan hidup dengan membenci mereka. Kalau saya terus membenci mereka, berarti sebagian hidup saya masih mereka miliki. Saya sudah terlalu lama belajar bagaimana rasanya ditinggalkan. Sekarang saya ingin belajar bagaimana caranya memilih untuk tinggal, di toko ini, di keluarga ini, dan di kehidupan yang tidak pernah saya rencanakan, tetapi akhirnya menjadi milik saya sendiri.
Peluk dalam komentar
Nggak perlu akun buat komentar. Yang penting: pakai hati.
Sebentar...
