Ayah dan Ibu pisah, aku dapat dua alamat dan nol penjelasan
Aku kelas dua SMP waktu itu. Yang aku ingat: koper, kunci rumah baru, dan suara AC kamar yang terlalu keras.
Tidak ada momen "kami perlu bicara, nak". Tidak ada keluarga duduk bareng di sofa kayak di sinetron. Yang ada cuma satu hari Ayah pulang, ngepak baju, dan bilang "Ayah pindah dulu ya. Nanti weekend kamu ke tempat ayah."
Aku kira itu semacam business trip. Sampai weekend datang, aku ke alamat baru ayah, dan ada ibunya teman SD-ku di sana. Pakai daster. Di dapur ayah. Bikin teh untuk aku, anak orang.
Aku pulang sore itu, masuk kamar, dan AC-nya kuset 16 derajat. Dingin sekali. Aku selimutan. Ibu ngetuk pintu nanya aku mau makan apa. Aku bilang nggak lapar. Ibu masuk, duduk di kasur, dan kami diam selama mungkin satu jam.
Tidak ada yang menjelaskan apa-apa. Tidak ada yang minta maaf. Cuma ibu pegang kakiku dari luar selimut, dan bilang, "Kamu nggak salah ya."
Ibu ngomong itu mungkin karena dia tahu anak-anak korban perceraian selalu menyalahkan diri sendiri. Aku baca itu di artikel-artikel sekarang. Tapi waktu itu, aku belum tau aku perlu denger kalimat itu. Aku cuma tau aku capek banget dan aku cuma mau tidur.
Sekarang aku 28. Ayah masih sama tante itu. Ibu nggak pernah nikah lagi. Aku punya dua alamat di KTP keluargaku, dua nomor handphone darurat di sekolah dulu, dan dua versi Lebaran setiap tahun.
Bukan keluarga yang hancur. Cuma keluarga yang pakai lem yang beda-beda. Lem ibu lem fox kuning. Lem ayah lem alteco yang cepet kering tapi gampang lepas. Aku? Aku belajar jadi lem sendiri.
Peluk dalam komentar
Nggak perlu akun buat komentar. Yang penting: pakai hati.
Sebentar...
