Gue Kasih Hampir Semua Gaji Gue ke Orang Tua, Tapi Gue Tetap Dibilang Durhaka
Sejak pertama kali kerja, gue selalu punya prinsip kalau gaji pertama gue harus dikasih ke orang tua.
Sejak pertama kali kerja, gue selalu punya prinsip kalau gaji pertama gue harus dikasih ke orang tua. Waktu itu gue senang banget akhirnya bisa menghasilkan uang sendiri. Gue ingat pulang kerja sambil bawa amplop berisi gaji, terus gue kasih semuanya ke nyokap.
Nyokap senang. Bokap juga. Mereka bilang gue anak yang berbakti. Gue senang dengarnya. Rasanya kayak akhirnya gue bisa membalas semua yang sudah mereka lakukan buat gue selama ini.
Sejak saat itu, setiap bulan gue selalu menyisihkan sebagian besar gaji buat mereka. Gue cuma mengambil secukupnya untuk ongkos, makan, dan kebutuhan sehari-hari. Kalau ada kebutuhan rumah, gue usahakan ikut membantu. Kalau bokap butuh uang, gue kasih. Kalau nyokap bilang ada tagihan yang belum dibayar, gue transfer.
Awalnya gue nggak pernah merasa keberatan. Gue berpikir, orang tua gue sudah membesarkan gue selama bertahun-tahun. Sekarang gue sudah bisa kerja, jadi sudah sewajarnya gue membantu mereka.
Apalagi setiap kali gue kasih uang, mereka selalu bilang gue anak yang paling bisa diandalkan.
Gue suka mendengar kalimat itu.
Mungkin karena gue merasa akhirnya gue bisa melakukan sesuatu yang membuat mereka bangga.
Tapi lama-lama, gue mulai sadar kalau hampir semua keputusan keuangan gue selalu berputar di sekitar keluarga.
Gue jarang beli baju baru. Kalau teman-teman ngajak pergi, gue sering menolak karena sedang menghemat. Gue juga nggak pernah benar-benar punya tabungan. Setiap kali uang mulai terkumpul, selalu ada kebutuhan keluarga yang harus gue bantu.
Kalau gue lagi ingin beli sesuatu untuk diri sendiri, gue selalu berpikir dua kali.
Bukan karena gue nggak punya uang sama sekali, tapi karena gue merasa uang itu akan lebih berguna kalau diberikan ke rumah.
Gue selalu bilang ke diri sendiri, nggak apa-apa. Nanti juga gue bisa beli sendiri kalau keadaan sudah lebih baik.
Gue terus mengulang kalimat itu selama bertahun-tahun.
Sampai akhirnya gue menikah.
Setelah menikah, gue mulai punya tanggung jawab baru. Ada istri yang harus gue nafkahi, ada kebutuhan rumah tangga, dan ada rencana masa depan yang harus kami bangun bersama.
Awalnya gue pikir gue masih bisa menjalani semuanya seperti biasa. Gue tetap mengirim uang ke orang tua setiap bulan, sambil berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri.
Tapi ternyata nggak semudah itu.
Biaya hidup semakin banyak. Ada cicilan, tagihan, kebutuhan sehari-hari, dan berbagai pengeluaran yang sebelumnya nggak pernah gue pikirkan.
Istri gue sebenarnya nggak pernah melarang gue membantu orang tua. Dia tahu gue sayang sama mereka. Dia juga tahu gue sudah terbiasa melakukan itu sejak lama.
Tapi suatu malam, dia mengajak gue bicara.
Dia bertanya apakah gue punya tabungan untuk keluarga kecil kami. Dia bertanya bagaimana kalau suatu hari nanti kami punya anak, atau kalau salah satu dari kami sakit dan membutuhkan biaya besar.
Gue nggak bisa menjawab.
Bukan karena gue nggak memikirkan hal itu, tapi karena gue memang belum punya persiapan yang cukup.
Malam itu, gue mulai menghitung pengeluaran gue selama ini. Gue baru sadar kalau uang yang gue berikan ke orang tua selama bertahun-tahun ternyata jauh lebih besar daripada uang yang pernah gue simpan untuk diri sendiri.
Gue merasa bersalah kepada istri gue.
Dia nggak pernah meminta hidup mewah. Dia cuma ingin kami punya pegangan kalau suatu hari terjadi sesuatu.
Akhirnya, gue memutuskan untuk mengurangi jumlah uang yang gue kirim ke orang tua. Bukan berhenti membantu, tapi menyesuaikan dengan kemampuan gue sekarang.
Gue pikir mereka akan mengerti.
Ternyata gue salah.
Waktu gue bilang bahwa bulan ini gue hanya bisa memberikan sejumlah uang karena ada kebutuhan rumah tangga yang harus diprioritaskan, nyokap langsung bertanya kenapa uang yang gue kirim berkurang.
Gue menjelaskan keadaan gue. Gue bilang pengeluaran gue sekarang lebih banyak karena sudah punya keluarga sendiri.
Tapi nyokap malah bilang kalau sejak menikah gue berubah.
Dia bilang dulu gue nggak pernah perhitungan dengan orang tua. Sekarang, setelah punya istri, gue jadi lebih mementingkan keluarga sendiri.
Gue mencoba menjelaskan lagi bahwa gue tetap akan membantu mereka. Gue cuma nggak bisa memberikan sebanyak dulu.
Tapi pembicaraan itu berakhir dengan nyokap bilang kalau gue sudah lupa siapa yang membesarkan gue.
Gue diam.
Kalimat itu sebenarnya bukan pertama kali gue dengar. Sejak kecil, gue memang sering diingatkan tentang semua pengorbanan orang tua untuk gue.
Dulu, setiap kali mendengar itu, gue merasa bersalah. Gue merasa harus melakukan sesuatu untuk membalas mereka.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, gue merasa lelah.
Gue ingat semua hal yang sudah gue tunda demi mereka. Gue ingat berapa kali gue nggak jadi membeli sesuatu yang gue butuhkan karena uangnya gue berikan ke rumah. Gue ingat bagaimana gue selalu merasa nggak enak kalau punya uang lebih, seolah-olah uang itu seharusnya menjadi milik keluarga.
Dan sekarang, ketika gue mencoba menyisihkan sedikit untuk kehidupan gue sendiri, gue malah dianggap anak yang lupa diri.
Beberapa hari kemudian, bokap ikut menghubungi gue. Dia bilang gue sekarang sudah berubah dan nggak peduli lagi sama orang tua.
Gue ingin marah. Gue ingin bilang bahwa selama ini gue nggak pernah benar-benar berhenti peduli.
Tapi gue juga nggak tahu harus menjelaskan semuanya dari mana.
Bagaimana caranya menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun gue sudah berusaha menjadi anak yang baik, sampai gue sendiri nggak tahu bagaimana caranya memikirkan kebutuhan gue tanpa merasa bersalah?
Bagaimana caranya menjelaskan bahwa gue juga ingin punya masa depan yang aman, tanpa harus merasa seolah-olah gue sedang mengambil sesuatu dari mereka?
Akhirnya, gue cuma menjawab bahwa gue akan tetap membantu semampu gue.
Setelah itu, hubungan kami jadi berbeda.
Telepon dari rumah yang dulu terasa biasa sekarang sering membuat gue cemas. Setiap kali ponsel gue berbunyi, gue bertanya-tanya apakah ada kebutuhan baru yang harus gue penuhi.
Kalau gue nggak bisa membantu, gue merasa bersalah.
Kalau gue membantu, gue khawatir uang untuk kebutuhan rumah tangga sendiri nggak cukup.
Gue seperti selalu punya utang yang nggak pernah benar-benar lunas.
Yang paling membuat gue sedih, gue mulai merasa takut ketika harus bilang tidak kepada orang tua sendiri.
Padahal gue sudah dewasa. Gue sudah bekerja. Gue sudah punya keluarga sendiri. Tapi setiap kali orang tua gue kecewa, gue kembali merasa seperti anak kecil yang takut dianggap nakal.
Gue mulai bertanya-tanya, selama ini gue membantu mereka karena memang ingin membuat mereka bahagia, atau karena gue takut dianggap anak yang nggak tahu balas budi?
Gue nggak punya jawaban yang pasti.
Gue tahu orang tua gue sudah melakukan banyak hal untuk gue. Gue nggak menyangkal itu. Gue juga nggak ingin mereka hidup kesusahan kalau gue masih bisa membantu.
Tapi gue mulai sadar bahwa gue juga punya kehidupan yang harus gue jaga.
Gue punya istri yang ingin gue bahagiakan. Gue punya rencana yang ingin gue wujudkan. Gue juga ingin punya tabungan, membeli sesuatu tanpa merasa bersalah, dan sesekali menikmati hasil kerja gue sendiri.
Apa itu berarti gue anak yang egois?
Pertanyaan itu masih sering muncul di kepala gue.
Kadang gue melihat teman-teman yang bisa membantu orang tuanya sekaligus membangun kehidupan mereka sendiri. Gue ikut senang melihatnya, tapi gue juga bertanya-tanya kenapa gue selalu merasa harus memilih salah satu.
Kenapa membantu keluarga terasa seperti kewajiban yang nggak boleh dibatasi?
Kenapa ketika gue memberikan hampir semua yang gue punya, itu dianggap wajar, tapi ketika gue mulai menyisihkan sedikit untuk diri sendiri, gue dianggap berubah?
Gue nggak pernah meminta orang tua gue membalas semua uang yang sudah gue berikan. Gue juga nggak pernah berharap mereka memuji gue setiap saat.
Gue cuma ingin mereka mengerti bahwa gue tetap anak mereka, meskipun sekarang gue punya tanggung jawab lain.
Gue tetap sayang sama mereka, meskipun gue nggak bisa selalu memenuhi semua permintaan mereka.
Dan gue tetap ingin membantu mereka, meskipun sekarang gue harus belajar mengatakan tidak.
Sampai sekarang, gue masih mengirim uang setiap bulan. Jumlahnya memang nggak sebanyak dulu, tapi gue memberikannya sesuai kemampuan gue.
Gue juga mulai menyisihkan uang untuk tabungan keluarga kecil gue. Pelan-pelan, gue belajar bahwa menyiapkan masa depan sendiri bukan berarti gue berhenti peduli kepada orang tua.
Hubungan kami belum sepenuhnya membaik. Kadang masih ada ucapan yang membuat gue merasa bersalah. Kadang gue masih tergoda untuk memberikan lebih dari kemampuan gue hanya supaya mereka nggak kecewa.
Tapi sekarang gue mencoba mengingat bahwa gue nggak bisa terus mengukur kasih sayang gue dari berapa banyak uang yang bisa gue berikan.
Gue juga nggak bisa terus membuktikan bahwa gue anak yang baik dengan mengorbankan semua yang gue punya.
Gue nggak tahu apakah orang tua gue akan benar-benar memahami keputusan gue suatu hari nanti. Mungkin buat mereka, gue memang sudah berubah sejak menikah.
Dan jujur, mungkin memang ada yang berubah.
Dulu, gue cuma perlu memikirkan diri sendiri dan orang tua gue. Sekarang gue harus memikirkan keluarga yang sedang gue bangun juga.
Gue nggak bisa lagi menjalani hidup seolah-olah kebutuhan gue sendiri selalu bisa ditunda.
Gue masih merasa sedih setiap kali mengingat bagaimana mereka menilai gue sekarang. Bagian dari diri gue masih ingin kembali menjadi anak yang selalu bilang iya, yang selalu bisa diandalkan, yang nggak pernah membuat orang tuanya kecewa.
Karena dulu, menjadi anak yang bisa diandalkan adalah salah satu cara gue merasa disayangi.
Tapi gue sedang belajar bahwa gue nggak harus terus mengorbankan diri supaya pantas disebut anak yang baik.
Gue masih sayang sama orang tua gue. Gue akan tetap membantu mereka sebisa gue. Gue cuma berharap suatu hari nanti mereka bisa melihat bahwa gue juga sedang berusaha membangun kehidupan yang baik.
Bukan hanya untuk diri gue sendiri, tapi juga untuk keluarga gue sekarang.
Dan kalau suatu hari nanti anak gue sudah dewasa, gue nggak ingin dia merasa harus menyerahkan semua yang dia punya hanya supaya gue percaya bahwa dia menyayangi gue.
Gue ingin dia tahu bahwa dia boleh punya kehidupan sendiri. Dia boleh punya impian, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda.
Gue ingin dia membantu gue karena dia mampu dan ingin melakukannya, bukan karena takut gue akan menganggapnya anak yang durhaka.
Karena sekarang gue mulai mengerti sesuatu yang dulu nggak pernah terpikirkan oleh gue.
Gue menghabiskan bertahun-tahun memberikan hampir semua yang gue punya supaya orang tua gue tahu bahwa gue menyayangi mereka. Tapi ketika gue mulai menyisakan sedikit untuk diri sendiri, justru saat itulah mereka merasa gue sudah nggak menyayangi mereka lagi.
Peluk dalam komentar
Nggak perlu akun buat komentar. Yang penting: pakai hati.
Sebentar...
