Gue Nggak Pernah Menganggap Dia Ayah
Gue tumbuh tanpa ibu. Sejak kecil, gue tinggal berdua sama bokap.
Gue tumbuh tanpa ibu. Sejak kecil, gue tinggal berdua sama bokap. Kalau orang lain punya ayah yang bisa dijadikan tempat berlindung, gue justru tumbuh dengan seseorang yang selalu bikin gue merasa harus melindungi diri sendiri.
Bokap gue pemabuk. Kalau sudah minum, dia gampang marah. Hal kecil bisa jadi masalah besar. Gue nggak pernah tahu kapan dia bakal pulang dalam keadaan sadar, kapan dia bakal teriak-teriak, atau kapan gue harus masuk kamar dan pura-pura tidur supaya nggak kena masalah.
Gue masih kecil waktu itu. Gue belum ngerti kenapa orang dewasa bisa bersikap seperti itu kepada anaknya sendiri. Yang gue tahu, gue takut sama bokap gue.
Gue nggak ingat banyak tentang ibu. Gue cuma tahu dia pergi dan nggak pernah membawa gue bersamanya.
Dulu, gue sering membayangkan ibu bakal datang menjemput gue. Gue membayangkan suatu hari ada yang mengetuk pintu, lalu ibu berdiri di sana dan bilang kalau gue bisa ikut dengannya.
Tapi itu nggak pernah terjadi.
Semakin besar, gue semakin sering bertanya-tanya kenapa ibu pergi. Gue nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Tapi gue selalu berpikir, mungkin ibu nggak tahan sama kelakuan bokap. Mungkin dia sudah terlalu lelah menghadapi semuanya.
Gue bisa mengerti kenapa ibu ingin pergi.
Yang nggak pernah bisa gue mengerti adalah kenapa dia nggak membawa gue.
Kenapa dia membiarkan gue tinggal bersama orang yang bahkan nggak bisa memperlakukan gue dengan baik?
Apa dia nggak tahu kalau gue juga takut? Apa dia nggak pernah berpikir kalau gue juga ingin pergi dari rumah itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus ada di kepala gue, bahkan sampai gue dewasa.
Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih gue ingat.
Waktu itu gue masih kecil. Siang hari, gue tidur di kamar. Gue setengah sadar karena mendengar suara yang mengganggu tidur gue. Awalnya gue nggak terlalu peduli. Tapi karena suara itu terus terdengar, gue akhirnya membuka mata dan melihat ke arah suara tersebut.
Gue melihat bokap sedang berhubungan seksual dengan pembantu rumah tangga kami, di kamar gue sendiri.
Gue nggak tahu harus berbuat apa. Gue cuma diam dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Gue masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya, tapi gue tahu ada sesuatu yang salah.
Itu kamar gue. Tempat gue tidur, bermain, dan menghabiskan sebagian besar waktu gue di rumah.
Sejak hari itu, gue nggak pernah merasa nyaman sepenuhnya di kamar sendiri.
Gue nggak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapa pun. Gue bahkan nggak tahu harus bercerita kepada siapa. Bokap adalah orang yang seharusnya menjaga gue, tapi justru dia yang membuat gue merasa nggak aman di rumah sendiri.
Buat gue, kejadian itu bukan cuma tentang apa yang gue lihat. Itu tentang bagaimana seseorang yang seharusnya menjadi pelindung gue sama sekali nggak peduli kalau gue ada di sana.
Dan itu bukan satu-satunya hal yang gue alami selama tinggal bersamanya.
Gue tumbuh dengan banyak kemarahan. Gue nggak suka dibentak. Gue nggak suka ada orang yang mencoba mengatur gue dengan kasar. Gue juga nggak suka memperlihatkan kelemahan gue kepada siapa pun.
Kalau ada masalah, gue lebih memilih menyelesaikannya sendiri. Kalau gue sedih, gue diam. Kalau gue marah, gue simpan sampai akhirnya gue nggak tahan lagi.
Gue pikir, kalau gue bisa menjadi orang yang keras, nggak akan ada yang bisa menyakiti gue lagi.
Tapi ternyata, gue cuma tumbuh menjadi orang yang sulit percaya kepada orang lain.
Gue juga sulit memaafkan bokap.
Setiap kali mengingat masa kecil gue, yang muncul bukan kenangan menyenangkan tentang seorang ayah. Yang gue ingat adalah suara teriakannya, bau alkohol, rasa takut setiap kali dia pulang, dan kejadian-kejadian yang seharusnya nggak perlu gue alami saat masih kecil.
Buat gue, dia cuma laki-laki yang kebetulan menjadi bokap gue.
Gue nggak pernah merasa punya ayah yang bisa gue banggakan. Gue bahkan nggak tahu harus menjelaskan hubungan kami seperti apa kalau ada orang yang bertanya tentang keluarga gue.
Kadang gue iri melihat teman-teman gue yang bisa bercanda dengan bokap mereka. Yang bisa menelepon ayahnya ketika punya masalah. Yang bisa pulang ke rumah dan merasa aman.
Gue juga ingin punya hubungan seperti itu.
Tapi setiap kali keinginan itu muncul, gue langsung teringat siapa bokap gue sebenarnya.
Gue nggak mau memaafkannya. Bukan karena gue ingin terus marah, tapi karena gue merasa dia nggak pernah benar-benar memahami apa yang sudah dia lakukan kepada gue.
Gue nggak pernah mendengar dia meminta maaf atas masa kecil gue. Nggak pernah ada pembicaraan tentang semua hal yang terjadi. Seolah-olah semua itu nggak pernah menjadi masalah.
Sementara buat gue, semuanya masih ada sampai sekarang.
Lalu suatu hari, gue mendapat kabar kalau bokap sakit kanker.
Waktu pertama kali mendengarnya, gue diam cukup lama. Gue nggak tahu harus bereaksi seperti apa.
Gue harus sedih?
Atau justru merasa lega karena akhirnya orang yang selama ini membuat hidup gue sulit sedang menghadapi sesuatu yang nggak bisa dia kendalikan?
Pikiran itu membuat gue merasa bersalah. Tapi kalau gue jujur, gue juga nggak bisa memaksakan diri untuk merasa sedih.
Gue nggak tahu bagaimana keadaan bokap sekarang. Gue nggak tahu apakah dia takut, apakah dia memikirkan masa lalunya, atau apakah dia pernah menyesali semua yang sudah terjadi.
Yang gue tahu, kabar itu membuat gue kembali memikirkan hal-hal yang selama ini berusaha gue lupakan.
Gue mulai bertanya-tanya, apakah gue harus menjenguknya.
Kalau gue datang, apa yang harus gue katakan? Apa gue harus bersikap seperti anak yang khawatir kepada ayahnya? Apa gue harus menggenggam tangannya dan bilang semuanya akan baik-baik saja?
Gue bahkan nggak tahu apakah gue sanggup duduk di sampingnya tanpa mengingat semua yang pernah dia lakukan.
Tapi kalau gue nggak datang, bagaimana kalau itu menjadi kesempatan terakhir gue untuk melihatnya?
Gue benci harus memikirkan hal seperti ini. Selama bertahun-tahun, gue selalu berharap bisa hidup jauh dari bokap. Sekarang, ketika ada kemungkinan dia nggak akan hidup lebih lama lagi, gue justru nggak tahu harus berbuat apa.
Gue pikir, kalau suatu hari bokap sakit atau menua, gue akan merasa puas. Gue pikir gue akan merasa semua yang terjadi akhirnya terbalaskan.
Ternyata nggak sesederhana itu.
Gue tetap marah. Gue tetap nggak bisa melupakan apa yang dia lakukan. Tapi sekarang ada perasaan lain yang sulit gue jelaskan.
Gue sedih memikirkan bahwa mungkin gue nggak akan pernah mendapatkan penjelasan darinya. Gue mungkin nggak akan pernah tahu apakah dia sadar bahwa dia sudah membuat anaknya sendiri takut tinggal di rumahnya. Gue mungkin nggak akan pernah mendengar permintaan maaf yang selama ini gue tunggu.
Dan yang paling menyakitkan, gue mungkin nggak akan pernah tahu bagaimana rasanya punya ayah yang benar-benar menyayangi gue.
Gue juga masih memikirkan ibu.
Kalau dulu ibu pergi karena bokap, gue bisa mengerti kenapa dia ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi sampai sekarang, gue masih belum bisa menerima kenapa dia nggak membawa gue.
Gue nggak tahu apakah hidup gue akan lebih baik kalau dulu gue ikut ibu. Gue juga nggak tahu apakah ibu sebenarnya pernah mencoba membawaku pergi atau tidak.
Gue cuma tahu bahwa waktu itu gue masih anak kecil. Gue nggak punya pilihan tentang siapa yang membesarkan gue, di mana gue tinggal, atau bagaimana gue harus menghadapi semua yang terjadi.
Gue cuma ingin ada orang dewasa yang menjaga gue.
Dan seharusnya, orang itu adalah bokap gue.
Sekarang gue sudah dewasa. Gue bisa menentukan sendiri bagaimana gue ingin menjalani hidup. Gue nggak harus terus tinggal bersama bokap, dan gue nggak harus memaksakan hubungan yang selama ini nggak pernah terasa seperti hubungan ayah dan anak.
Gue juga mulai mengerti bahwa gue nggak harus memaafkan seseorang hanya karena dia sedang sakit. Penyakitnya nggak menghapus apa yang pernah terjadi. Tapi gue juga nggak ingin terus hidup dengan kemarahan yang membuat gue sulit menikmati hidup gue sendiri.
Gue belum tahu apakah suatu hari nanti gue bisa memaafkan bokap. Mungkin gue bisa, mungkin juga nggak.
Untuk sekarang, gue cuma ingin menerima bahwa gue punya masa kecil yang menyakitkan dan gue nggak bisa mengubahnya.
Gue nggak bisa mengubah keputusan ibu untuk pergi. Gue nggak bisa mengubah cara bokap memperlakukan gue. Gue juga nggak bisa kembali ke masa lalu dan menjadi orang dewasa yang seharusnya melindungi diri gue sendiri.
Tapi gue bisa berhenti menyalahkan diri gue atas semua yang terjadi.
Dulu, gue sering berpikir bahwa mungkin gue memang nggak cukup penting sampai ibu tega meninggalkan gue. Mungkin gue juga nggak cukup berharga sampai bokap nggak pernah merasa perlu menjaga gue dengan baik.
Sekarang gue mulai sadar, gue cuma seorang anak kecil yang nggak punya kuasa atas keputusan orang tuanya.
Gue nggak seharusnya mengalami semua itu. Dan gue nggak harus menghabiskan sisa hidup gue untuk membuktikan bahwa gue bisa bertahan setelah mengalaminya.
Gue masih belum tahu apa yang akan gue lakukan kalau kondisi bokap semakin memburuk. Gue belum tahu apakah gue akan menjenguknya atau tetap menjaga jarak.
Gue juga belum tahu apakah suatu hari nanti gue akan bisa mengingatnya tanpa merasa marah.
Tapi untuk pertama kalinya, gue ingin mencoba menjalani hidup tanpa harus terus memikirkan apa yang seharusnya dilakukan seorang anak kepada ayahnya.
Karena selama ini, gue terlalu sibuk memikirkan apakah gue masih punya kewajiban sebagai anak, sampai lupa bertanya apakah gue sendiri sudah baik-baik saja.
Gue nggak tahu apakah gue bisa memaafkan bokap. Gue cuma tahu, sampai sekarang gue masih berusaha menerima kenyataan bahwa orang yang seharusnya membuat gue merasa aman justru menjadi orang yang paling gue takuti.
Peluk dalam komentar
Nggak perlu akun buat komentar. Yang penting: pakai hati.
Sebentar...
