Langsung ke konten utama
kembali ke cerita
🔎 Cari Fam6 bulan lalu

Mencari kakak yang cuma ada di foto lama

Aku pikir dia sepupu jauh. Sampai bibiku, di acara reuni keluarga, salah ngomong dan bilang "kakakmu mas Andi."
A
Adik yang Telat
Cerita pakai alias

Foto itu di album lama, halaman ketiga. Anak laki-laki, mungkin umur tujuh, gendong aku yang masih bayi. Senyum lebar. Kemeja kotak-kotak biru. Latar belakangnya rumah neneknya ibu di Magelang.

Waktu aku tanya ibu, dia bilang itu sepupu. Namanya Andi. Tinggal di Surabaya. Aku nggak nanya lagi. Album ditutup. Hidup berjalan.

Sampai aku 22, di acara reuni keluarga besar, bibiku—yang udah agak mabuk wedang ronde—nepuk pundakku dan bilang, "Wah, kamu makin mirip kakakmu mas Andi ya. Apa kabar dia sekarang?"

Ibuku waktu itu lagi di dapur. Aku nggak respons apa-apa ke bibi. Cuma senyum. Tapi otakku langsung nge-replay semua interaksi sama foto itu selama dua puluh tahun.

Malamnya, di mobil pulang, aku tanya ayah duluan. Karena ibu kalo ditanya bakal nangis, dan aku nggak mau ibu nangis di tol jam sebelas malam.

Ayah diam dulu. Lama. Terus dia bilang, "Mas Andi anak ayah dari pernikahan pertama. Mama-nya ninggal pas dia umur lima. Pas ayah nikah lagi sama ibumu, mas Andi pilih tinggal sama nenek dari mama-nya. Ayah nggak pernah maksa. Ayah cuma kirim uang tiap bulan."

Aku tanya kenapa nggak pernah dikasih tau. Ayah bilang, "Karena ayah malu. Karena ayah merasa gagal jadi ayah."

Dua tahun terakhir aku pelan-pelan cari mas Andi. Lewat Facebook. Lewat teman SMA-nya. Lewat satu bibi dari pihak mama-nya yang masih mau ngomong sama ayah.

Dua bulan lalu kami akhirnya video call. Pertama kali. Dia nangis duluan. Aku nangis kedua. Dia bilang dia juga nyari aku selama bertahun-tahun, tapi nggak pernah berani—takut diusir.

Kami belum ketemu langsung. Tapi sekarang chat tiap hari. Kemarin dia kirim foto keponakanku—anak kecil umur empat tahun, kemeja kotak-kotak biru, gendong boneka. Dan aku ngerti kenapa ayah dulu nyimpen foto itu di album halaman ketiga. Bukan untuk menyembunyikan. Untuk menunggu.

Peluk dalam komentar

Nggak perlu akun buat komentar. Yang penting: pakai hati.

Sebentar, lagi ngecek keamanan…

Yang sopan ya. Kami moderasi.

Sebentar...