Mertua bilang sayang, tapi CCTV batinnya nyala terus
Setiap aku masak, dia berdiri di belakangku. Bukan bantu. Cuma "lihat". Katanya.
Mertuaku perempuan yang baik. Aku perlu nulis itu duluan supaya nggak salah paham. Dia nggak pernah teriak. Nggak pernah bilang aku jelek. Nggak pernah ngusir aku dari rumahnya.
Dia cuma… lihat. Terus.
Aku masak rendang? Dia berdiri di belakang kompor, sambil ngomong "Oh, kalo mama biasanya pake daun kunyit lebih banyak ya, biar wangi." Aku nyuci piring? "Air-nya jangan kekecilan, nanti sabunnya nempel." Aku gendong anakku? "Hati-hati ya, kepalanya jangan terlalu nunduk."
Nggak ada yang salah dari kalimat-kalimat itu satu per satu. Tapi kalo digabungin, jadi kayak CCTV yang ngerekam aku selama 12 jam tanpa jeda, dan setiap 15 menit ada notifikasi push.
Suamiku bilang aku terlalu sensitif. "Mama emang gitu, sayang. Ke aku juga gitu kok dari kecil." Lah, justru itu yang bikin aku khawatir. Karena suamiku—lelaki dewasa berumur 34 tahun—masih nungguin restu mamanya untuk milih warna sofa.
Setelah hampir setahun, aku akhirnya ngomong ke suamiku, bukan dengan marah, tapi dengan kalimat yang aku siapin di Notes app selama tiga minggu: "Aku sayang mama, dan aku juga butuh ruang. Aku butuh kamu yang bilang ke mama, bukan aku."
Dia nggak langsung ngerti. Butuh dua bulan dan satu sesi konseling sebelum dia akhirnya ngomong ke mamanya. Aku nggak ikut. Pulangnya dia peluk aku di parkiran, dan bilang, "Aku baru sadar mama nggak pernah tanya gimana perasaanku selama ini."
Mertuaku sekarang lebih jarang ke rumah. Awalnya aku merasa bersalah. Sekarang aku belajar bahwa kasih sayang yang sehat itu ada batasnya. Dan batas itu bukan dinding—itu pintu. Dengan engsel. Yang bisa dibuka dari kedua sisi.
Peluk dalam komentar
Nggak perlu akun buat komentar. Yang penting: pakai hati.
Sebentar...
